Saturday, May 23, 2015

Finally, we meet you!

Melahirkan buat saya bukan sesuatu yang mengerikan, terutama berhubung di kelas hypnobirth kita diajarkan kalau tubuh kita ini sudah diatur sedemikian sehingga pasti kuat, pasti bisa melahirkan dengan natural, dengan tersenyum, dan rileks. Itulah sebabnya, di masa-masa trimester akhir justru masa paling gegoleran buat saya. Tidur, masak-masakan, makan, main, ngajak ngobrol calon baby, rumpi di kelas senam hamil, browsing forum ibu-ibu, belanja online, ngehias 'kamar' bayi, dll.
Latihan kegel, labour dancing, endorphin massage, ah nanti-nanti ajalah. Haha.

Jalan pagi aja yuk (pencitraan, haha)


Hingga di suatu tengah malam, baru aja saya janjian senam hamil sama temen, 3 jam kemudian badan saya linu semua dan mual. What, masa mau flu sih, udah hamil gede begini nih. Plis jangan sakit. Untungnya sakitnya cuma semenitan, lalu berangsur-angsur fresh seperti sedia kala.

Untuk 3 menitan.

Selanjutnya linu muncul lagi! *senggol bacok*

Pak Suami langsung siaga ngambil fitness ball buat saya meredakan si linu engga jelas ini. Ini cara mengatasi nyeri hamil atau nyeri mendekati persalinan yang diajarkan oleh Bu Lanny.
(In case ada buibu yang mau praktekin, jadi caranya kita duduk di atas fitness ball dengan kaki menopang di lantai. Lalu gerakkan bola ke kiri dan kanan sambil duduk, bisa sambil peluk suami biar lebih stabil.)

Setelah dicatat sambil tangan gemetaran nahan sakit, ternyata sakitnya teratur di 3-4 menit sekali. Bodohnya saya, engga tau kalau itu yang namanya kontraksi berhubung sus-sus bidan selalu bilang kontraksi diawali dari sakit seperti nyeri haid teratur 30 atau 60 menit sekali. Lhaa, nyeri haid aja alhamdulillah engga pernah ngerasain. Selain itu, nyerinya harusnya engga mepet-mepet 4 menit sekali gini kan ya (masih terpatri dalam otak kalau nyeri kontraksi harusnya diawali 30 -60 menit sekali baru frekuensinya bertambah sampai ke 15 menit sekali, 10 menit sekali, 5 menit sekali dst).

30 menit kemudian alias jam 2.30 pagi, saya dan suami langsung angkat koper yang udah disiapkan sebelumnya dan berangkat ke rumah sakit.
Kasih tau ortu? Nanti ajalah ya, kan malu kalau ternyata cuma Braxton Hicks (kontraksi palsu), haha.

Sampai rumah sakit, ternyata sudah bukaan 6 aja (FYI, bukaan diawali dari bukaan 1 sampai bukaan 10). Dan setengah jam kemudian pun udah bukaan 7. Pantas saja kontraksinya sudah frekuensi tinggi begini.
Kok bisa dari bukaan 1 sampai ke 6 engga berasa sama sekali? Ah, mungkin ini akibat keberhasilan sugesti hypnobirth, haha.

Anyway, birthplan yang sudah dipersiapkan sebelumnya pun secara umum berhasil terealisasi. Dari persiapan berangkat ke rumah sakit, persiapan suasana bersalin, sampai sugesti positif dari pendamping (soal birthplan, nanti saya bahas terpisah ya, insya Allah).
"Ayah, tolong buka tas saya, itu ada wewangian lavender. Tolong taruh sebelah saya ya" (wangi bebungaan ala jampi-jampi)
"Ok"
"Ayah, ambilin iPad yah. Tolong buka album lagu Baby Mine (lagu-lagu yang saya kumpulkan untuk relaksasi sekaligus mengiringi momen-momen bersama si baby, ceile), nyalain yah"
"Ok"
"Ayah, ...aaaakk..muncul lagi linunya. Pijitin plis"
"Ok"
"Ayah, tolong.. aaak, tolong.. Huhu sakitt"
"Ayo tarik napas, saya di sini kok, tenang ya"
.

Engga lama, dokter anastesi datang dan menyuntik ILA, suntikan ajaib yang konon katanya bisa mengurangi bahkan menghilangkan rasa sakit kontraksi saat melahirkan normal.
"Oke, siap ya, punggungnya yang tegak ya, mau disuntik dulu"
"Aaaa.."
"Aduh, jarumnya kejepit di punggung kamu nih, ayo balikin tegak lagi"
"Whaaa?" (engga lucu banget nih ada jarum nyangkut di tulang belakang, emangnya gendam huhuu)
"Nah, untunglah berhasil kecabut jarumnya, wah sampai bengkok gini"
(Becanda ya dok?)
Stress!

"Dok, dok, dok, ini kok tetep sakit sih? Katanya ILA bisa hilangin sakit kontraksi"
"Iya nikmatin aja"
"Dok, ini beneran masih sakit dok. Engga apa-apa kan ya?"
"Apa-apa sih, tapi kamu ga bisa ngapa-ngapain selain pasrah"
(Jangan-jangan ILA gagal gara-gara tragedi jarum tadi huhu)
Stress!!

Ayah, kamu di mana? (lagi urus administrasi)
Cepetan balik dong.
Please, saya butuh yang bisa dijambak. Huhu.
Untungnya ada Teh Anti yang kebetulan lagi jaga di RS Premier Bintaro, menemani saya sejak awal di ruang bersalin. Hati lebih tenang :)

Dalam 3 jam sejak sampai di rumah sakit, bukaan sudah lengkap dan dokter obgyn kesayangan pun sudah datang.
"Oke. Ayo, tarik napas dalam, lalu dorong. Satu.. Dua.. Tiga.."
"Errggh.."
"Itu mah belum ngeden neng"
"Aduh lupa saya jurus-jurus dari kelas senam hamil"
"..."

Alhamdulillah, dengan 3 kali hentakan, terdengarlah suara si baby. The most mengharukan moment dalam hidup kami, saya sampai berkaca-kaca nyaris menangis.
Ini toh wujudnya yang selama ini di dalam perut.
Begini toh suaranya yang selama ini cuma dak-duk-dak-duk nendangin perut saya.
Ah, we love you at the first sight.

Welcome to the world, baby Gemma!

Saturday, March 21, 2015

Marriage Plan

Dulu sempat mau rajin ngeblog seenggaknya sebulan sekali, berhubung sayang juga kalau ada momen bagus yang engga terdokumentasikan. Tapi seiring berjalannya waktu, mood nulis pun pupus ditelan (ceritanya) kesibukan. Cailah :D

Nah sekarang, di masa-masa cuti panjang, mulai terpikirlah buat mulai ngeblog lagi untuk ngisi waktu.


Masih edisi lanjutan dari post sebelumnya, konon dulu saya punya visi soal menikah di usia 23-24 tahun. Walaupun begitu, tingkat urgensinya biasa aja, engga maksa harus terwujud. Mau menikmati hidup dengan santai, engga musti diburu-buru amat lah pokoknya.

Hingga suatu waktu, datang jugalah saat di mana si pacar ngomong "Tahun depan kita nikah yuk".

Untuk menjawab dengan "Yuk" sebetulnya mudah aja. Terlebih, checklist pertimbangannya engga banyak dan alhamdulillah udah lama dipersiapkan secara bertahap.
1. Udah yakin dengan si partner?
2. Kondisi finansial udah sama-sama sehat? (FinPlan banget yaa)
3. Bisa engga beradaptasi dengan budaya si partner maupun keluarganya?
4. Keluarga udah sama-sama setuju?
5. Kira-kira bisa engga ya sama-sama ngewujudin gambaran keluarga ideal yang diharapkan?

Sesimpel itu aja (gayaa), lalu jadilah 2 tahun kemudian saya ngepost ini sambil goleran di sofa, nemenin suami alias si mantan pacar yang lagi main Winning Eleven.

"You by the light is the greatest find
In a world full of wrong you're the thing that's right
Finally made it through the lonely to the other side"
- Terrified, Katharine McPhee


Sunday, July 13, 2014

Visi

Bertahun-tahun yang lalu, saat Ligwina mulai "mengindonesia" alias menjadi "ibu" financial planner panutan masyarakat middle class di Indonesia, saya langsung terkesan dengan jargon "Tujuan Lo Apa" yang selalu beliau utarakan. Hingga sekarang.

Di luar urusan perencanaan keuangan, jargon ini menjadikan saya mulai berpikir lebih serius tentang masa depan. Apa ya visi alias tujuan hidup saya?

Apa yang dicari?
Kehidupan yang selama ini sudah saya terima dengan cukup, engga mewah, tapi engga kurang. Keluarga Sederhana, istilah yang sering keluarga kami pakai.
Pendidikan yang cukup, lulus SMA dan sedang menjalani perkuliahan (saat itu). Jauh lebih beruntung dibandingkan orang-orang lain yang belum mendapatkan kesempatan yang sama.
Punya pasangan yang baik dan pengertian.

Tapi, mau sampai kapan?
Apa iya, mau selamanya dalam naungan orang tua?
Apa iya, mau melanjutkan kuliah S2, S3, sampai profesor tanpa ada tujuan yang terencana?
Apa iya, selamanya mau single-not-available?

Kalau selama ini udah memperoleh sedemikian banyak, seharusnya juga mulai berpikir untuk memberi. Selama ini memperoleh didikan, bimbingan, dan naungan yang cukup dari orang tua. Setelah ini berarti giliran saya yang mendidik, membimbing, dan menaungi keluarga.
Kalau selama ini udah memperoleh kesempatan mendapatkan pendidikan yang layak, ada masanya di mana insya Allah nanti giliran anak yang akan saya curahkan dengan pendidikan yang lebih layak lagi.
Kalau udah punya pasangan, maka kenapa masih berpikir untuk tidak settle?

Lho, ternyata lambat laun pemikiran itu mengerucut ya.
Saya ingin di usia 23-24 menjalani hidup bahagia bersama keluarga. Happily ever after, hingga akhir hayat :)
Gambaran idealnya adalah:
  1. Orang tua punya value yang diajarkan untuk anak-anak, tetapi dengan pendekatan diskusi
    Masa kecil yang pernah saya alami, penuh dengan keingintahuan. Sayangnya, tidak sedikit lingkungan yang mengajar dengan metode doktrinase, seolah "yang junior ikutin ajalah jangan banyak nanya, toh isu itu udah sejak dulu kita tau begitu adanya". Sayang sekali kalau potensi anak menjadi terbatas, pengetahuannya sebatas yang diketahui oleh pendahulu aja. 
  2. .
  3. Anak berhak atas diri orangtuanya yang terbaik
    Sedikit menyambung yang poin 1 tadi, inginnya punya banyak hal yang bisa dibagi ke keluarga. Waktu yang seimbang, pengetahuan yang baik (ga melulu urusan ilmu pengetahuan dan akademik aja, tapi juga hal-hal geje sekalipun selama itu baik), dan menjadi contoh yang baik (apalagi anak adalah peniru yang sangat baik).
Dan ketika saya menuliskan post ini, ternyata tanpa terasa udah di gerbang menuju visi itu. Udah membentuk keluarga kecil yang settle.
Lalu pe-er besarnya adalah segera memulai dan menjalaninya dengan konsisten. Emang mudah untuk diucapkan/ dituliskan, tapi engga akan kemana-mana kalau belum diusahakan. Bismillah :)

Wednesday, October 31, 2012

Career Series #3: Sehat

Ada salah satu hal yang saya concern sekali, yaitu kesehatan. Spesifiknya adalah saya percaya kalo apapun yang dikenakan ke tubuh bakal ngaruh ke kesehatan. Makanya setiap ketemu orang yang profesinya dokter, saya suka nanyain zat ini oke ngga, yang itu gimana, yang sana gimana, dst. Ga jarang juga baca-baca forum kesehatan buat tau komposisi produk dan makanan yang aman.

Belakangan di suatu workshop, saya ketemu dengan salah satu dosen FKUI. Bu Tifa namanya. Dari Bu Tifa, saya jadi tau kalo sebenernya zat ini itu bukan faktor utama kita kena penyakit. Tapi justru dari keturunan.
Faktanya, udah terbukti 99% penyakit itu disebakan oleh gen kita. 
Jadi bahkan untuk penyakit lumrah seperti flu atau pilek, kalau seandainya orangtua kita ngga pernah ngalamin, hampir dipastiin kita ngga akan pernah sakit flu. Zat-zat berbahaya sifatnya hanya sebagai pencetus aja. 

(Btw, zat-zat berbahaya yang dimaksud adalah bakteri, virus, bahan kimia, maupun komposisi makanan tertentu)

Gitu juga penyakit kulit, contoh yang paling gampang sih jerawat. Jangan heran kalau ada temen yang ga doyan sayur, ga doyan buah, ga doyan minum air putih, ga doyan olahraga, jarang ngerawat kulit, tapi kulitnya mulus kinclong bebas jerawat. Kemungkinan besar orangtua atau kakek-neneknya juga ga pernah jerawatan. Entah karena orangtua atau kakek-neneknya ini ngejaga diri dengan rajin bebersih diri atau konsumsi yang sehat. Nah ini dampaknya ternyata ya nurun terus ke anak cucu.

Selain gen, saya baca dari twitnya @blogdokter, kesehatan dan penyakit juga disebabin

Friday, October 26, 2012

Career series #2: Make Time for Time

Because I used to be a procrastinator, I knew how it feels. Guilty and also weird pleasure feeling at the same time. Sometimes (often) procrastinators end up with either multiple tasks at once or couldn’t finish the most strategic tasks. I think this article is somehow suitable for all procrastination-quitters out there.

Most people assume they dedicate more hours to strategic work than they actually do. Look back on the past month in your calendar. The time you spent on your strategic priorities is likely less than you thought. Because most people tend to do the most urgent things instead of the most meaningful things.

So, let’s make time for time:
1. Identify your top five priorities for the coming year
2. Each month make sure you spend enough time on those priorities
3. If you don’t, it’s time to cancel some meetings and build in time for the things that matter.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...